Sekolah di luar negeri memerlukan kesiapan mental yang tinggi. Semangat untuk “berpetualang” dan belajar saja tidak cukup. Sekolah di luar negeri membutuhkan perhitungan-perhitungan psikologis sebelum berangkat dari tanah air. Dahulu saya sangat bersemangat sekali untuk pergi belajar ke luar negeri. Tapi kemudian setelah tiba di Australia dan tinggal dengan masyarakat lokal beberapa bulan, banyak sekali keadaan dan kondisi yang tidak diperkirakan sebelumnya kemudian muncul dan membuat shock psikologis saya pribadi. Ini yang dinamakan dengan “Cultural Shock”. Banyak International Student dari banyak negara yang mengalami shock ini.
Untuk meminimalisir cultural shock, dianjurkan untuk membaca tips-tips mengenai studi di luar negeri yang terdapat di Internet atau di lembaga-lembaga sekolah di luar negeri seperti di International Development Programme (IDP). Menurut saya, yang paling penting adalah untuk mengenal dan menguasai Bahasa Inggris. Pengalaman bahasa Inggris di SMP atau SMA saja tidak cukup atau di tempat kursus saja tidak cukup. Saya belajar bahasa Inggris sejak di kelas 4 SD hingga beres kuliah S1 di Universitas negeri, tapi bahasa Inggris saya tetap kurang memadai. Berbahasa Inggris yang baik bukan sekedar bagaimana mengucapkan kata-kata bahasa Inggris yang baik, tapi juga bagaimana mengekspresikan diri kita dengan bahasa Inggris yang kita gunakan. Banyak orang lokal Australia yang kebingungan dengan cara International Student mengekspresikan bahasa Inggrisnya. Hasilnya, kesalahpahaman sering terjadi. Alih-alih ingin memperbanyak teman, yang ada teman-teman menjauhi kita.
Pernah suatu ketika ada mahasiswa yang hendak menyeberang jalan di sebuah Jalan di Civic kota Canberra. Dia menyeberang tanpa mengindahkan rambu-rambu yang ada. Ketika rambu pejalan kaki (pedestrian) masih berwarna merah, orang itu langsung menyeberang tanpa basa-basi. Dari sebelah muncul mobil berkecepatan tinggi yang hampir menabraknya. Meskipun selamat, tingkah laku dia yang melanggar peraturan tidak disukai orang-orang yang berada di belakangnya. Salah satunya ialah polisi yang kemudian mendatangi orang tersebut. Polisi itu marah dan bertanya mengapa ia melakukan pelanggaran itu, karena orang yang melakukan itu orang Asia yang terkenal murah senyum meskipun ia berbuat salah, ia menjawab dengan bahasa Inggris yang tidak jelas sambil tersenyum-senyum. Polisi itu marah karena mengira orang tersebut menertawai dia. Dari pengalaman ini bisa diambil sebuah pelajaran bahwa belajar bahasa Inggris itu membutuhkan juga pembelajaran konteks budaya dan etika dimana bahasa itu digunakan. Budaya dan etika Inggris, Australia dan Amerika sangat jauh berbeda. Maka dari itu, dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang asing yang ada di Indonesia dan berteman baik dengan mereka. Selagi ada, kenapa tidak menggunakan kesempatan itu?
Belajar di luar negeri seperti di belajar negeri kangguru ini juga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Makanan sehat dan olah raga rutin sangat mempengaruhi stamina kita sehari-hari. Menjaga kesehatan lebih baik daripada pergi ke dokter yang biayanya bisa sangat mahal. Meskipun ada fasilitas gratis untuk pergi ke dokter, tetap saja untuk obat kita membutuhkan uang yang sangat banyak.
Finansial juga sangat berpengaruh dalam melanjutkan studi di luar negeri. Kebanyakan mahasiswa Indonesia di sini mendapatkan beasiswa dari AusAID dan institusi-institusi lain yang menawarkan beasiswa setiap tahunnya. Bagi mereka yang beruntung, beasiswa adalah kesempatan emas yang patut disyukuri; tidak semua orang mendapatkan itu. Saya sebagai contoh, sudah gagal dua kali dalam mengajukan proposal beasiswa ke DIKTI dan AusAID. Yang pertama diklaim bahwa formulir saya “hilang” entah kemana, yang kedua memang saya tidak memenuhi syarat pelamaran beasiswa. Mahasiswa “private” seperti saya dan sebagaian kecil kawan-kawan yang lain, belajar di luar negeri itu sangat berat sekali. Mulai dari setiap bulan harus hidup dengan uang yang terbatas. Biaya akomodasi yang mahal, buku-buku pegangan yang mahal, kebutuhan primer yang mahal. Jika uang pas-pasan, tidak dianjurkan untuk nekad sekolah ke luar negeri. Karena pada akhirnya kenekadan ini akan berbuah stress dan mengganggu proses belajar itu sendiri.
Sebagai orang berpikir dengan bekerja sampingan (part-time job) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini juga tidak mudah. Bekerja membutuhkan komitmen yang lebih kuat untuk mengatur waktu belajar dan mengerjakan tugas. Terlalu banyak bekerja akan mengakibatkan letih secara fisik dan mental, tugas-tugas kampus menjadi taruhan yang mesti dipertanggung jawabkan. Hati-hati dengan nilai jeblok! Biasanya mahasiswa Indonesia di sini memaksimalkan kerja dan menabung uang ketika waktu liburan atau break semester.
Selain masalah finansial, masalah pergaulan sosial juga mesti diperhatikan. Banyak mahasiswa yang belajar di luar negeri hanya fokus pada studi dan pengalaman jalan-jalan dan belanjanya saja. Mereka kadang-kadang lupa betapa pentingnya untuk dapat “bergaul” dengan mereka yang datang dari budaya dan negara yang berbeda.
Di Australia, terdapat gap yang cukup besar antara International Student yang mayoritas dari Asia dengan mahasiswa Australia atau dengan International Student lain yang datang dari negara yang berbahasa Inggris. Secara kasarnya, terdapat gap antara mahasiwa Asia dan mahasiswa kulit putih. Hal ini diakibatkan oleh ketakutan, keminderan, dan kekhawatiran para mahasiswa itu dalam menggunakan bahasa Inggrisnya dengan baik. Dalam diskusi kelas, tidak sedikit mereka yang secara halus dicemooh oleh sebagian dosen atau kawan mahasiswanya yang jelas-jelas berbahasa Inggris dengan baik (karena mereka native speaker). Gap dalam bahasa dan budaya inilah yang akhirnya masing-masing mahasiswa hanya ingin bergaul dengan sesamanya; komunitas India dengan India, Indonesia dengan Indonesia, “Kulit Putih dengan Kulit Putih”, dan seterusnya. Gap inilah yang mempersulit integrasi sosial di kampus-kampus atau di tempat bekerja di Australia.
Tapi ada juga diantara mereka yang dapat bergaul secara lintas batas karena biasa dibesarkan dengan perbedaan dan sudah mengenal perbedaan ini dengan cukup baik. Pengalaman saya, berpikir positif dalam pergaulan sosial akan membantu untuk mencapai integritas sosial itu. Biar bahasa Inggris kita pas-pasan, orang native yang bahasa Inggris akan senang membantu untuk memperbaiki bahasa Inggis kita jika kita menghendakinya. Jika berteman dengan sangat baik diantara mereka, ada yang sukarela membantu ‘mengedit’ tulisan essai kita. Ada juga diantara mereka yang meminta bayaran. Tergantung dari orangnya.
Yang terakhir, masalah cinta juga berpengaruh ketika kita belajar di luar negeri. Bagi yang single, kesepian di negeri orang terkadang membuat frustasi dan stress sendiri. Kebutuhan untuk mencari teman hidup di negeri orang akan selalu muncul terutama di saat-saat stress belajar dan liburan. Bagi yang sudah punya pacar, mereka selalu merasa khawatir (insecure) dengan keadaan pacarnya yang ditinggal jauh. Hubungan komunikasi satu-satunya yang dapat ditempuh oleh para mahasiswa yang menjalani “distance relationship” adalah melalu telepon, SMS, email, chatting on-line, dan kirim-kirim surat cinta. Banyak tantangan bagi mereka yang menjalani distance relationship ini. Ada yang survive dan bisa terus bertahan hingga mereka bertemu lagi, ada juga yang kandas di tengah jalan diantara dua benua. Masalah ini juga kadang berlaku bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Saya sudah berkeluarga ketika saya berangkat ke Australia di tahun 2007. Tidak dianjurkan untuk berangkat sekolah ke luar negeri sebelum masalah-masalah keluarga diselesaikan dengan baik-baik. Setidaknya ada kejelasan antara komitmen dan tujuan dalam berkeluarga itu sendiri. Antara keinginan untuk terus hidup bersama dan memperbaiki hubungan dengan pasangan mesti dilakukan dengan komitmen yang tinggi. Bagi pasangan yang menikah, komitmen menjaga hubungan lebih tinggi dibandingkan mereka yang masih pacaran tapi jarak jauh.
Awalnya sangat sulit bagiku untuk membawa keluarga ikut ke Australia, berhubung dengan keterbatasan uang yang tidak mencukupi kebutuhan hidup semuanya dan permasalahan domestik yang belum tuntas. Kehadiran isteri dan anak saya ke Australia di akhir tahun 2007 membawa resiko yang sangat besar. Meskipun orangtua mendukung secara finansial dan moral, kesiapan mentalku dan isteriku saat itu masih labil. Konflik domestik pun tidak terhindarkan. Walhasil, di pertengahan bulan Maret 2008, kami mesti pulang kembali ke Indonesia berhubung masalah keluarga semakin besar.
Tapi aku kembali ke Australia untuk menyelesaikan program bridging semester terakhirku. Meskipun senang bisa belajar lagi, tapi tidak mudah untuk berfokus dan berkonsentrasi pada pelajaran yang aku ambil. Stress persoalan keluarga terus menghantui pikiranku. Meskipun demikian, aku tetap berusaha menikmati “indah”nya sisi kehidupan di canberra ini. Musim dingin di kota ini cukup membuat kulit dan tulang tubuh tertusuk dan membeku.
Setiap kali kuberjalan di sekitar kampus dan kota Canberra ini, pepohonan indah, langit biru, dan jalan-jalan yang bersih cukup menghibur hari-hariku. Kawan-kawan yang supportive dan orang-orang yang mencintai di dalam dan di luar negeri ini ikut mewarnai sisa-sisa musim dingin yang sunyi ini. Suka dan duka belajar dinikmati dengan harapan aku dapat kembali lagi di tahun 2009.
Aku memutuskan untuk pulang dulu ke Indonesia dan istirahat selama 6 bulan untuk menyelesaikan persoalan keluarga yang belum terselesaikan. Satu tahun di Canberra, tidak terasa, dari musim dingin ke musim dingin, banyak sekali perubahan dalam hidup ini. Ya, mungkin rasanya seperti naik beberapa level lebih tinggi dari sebelumnya. Bukan merasa “lebih tinggi’ karena belajar di luar negerinya, malinkan karena merasa “lebih tinggi” menyadari kekurangan diri sendiri dan memandang hidup dengan cara yang berbeda pula. Seperti dalam film Canberra Avenue yang disutradai oleh Heri Supriyanto, semua keyakinan dan tradisi mengalami penuh cobaan dan tantangan.
