Oleh: hsaefullah | Juni 29, 2008

Winter di Canberra: Studi Master IR di ANU #2

Sekolah di luar negeri memerlukan kesiapan mental yang tinggi. Semangat untuk “berpetualang” dan belajar saja tidak cukup. Sekolah di luar negeri membutuhkan perhitungan-perhitungan psikologis sebelum berangkat dari tanah air. Dahulu saya sangat bersemangat sekali untuk pergi belajar ke luar negeri. Tapi kemudian setelah tiba di Australia dan tinggal dengan masyarakat lokal beberapa bulan, banyak sekali keadaan dan kondisi yang tidak diperkirakan sebelumnya kemudian muncul dan membuat shock psikologis saya pribadi. Ini yang dinamakan dengan “Cultural Shock”. Banyak International Student dari banyak negara yang mengalami shock ini.

Untuk meminimalisir cultural shock, dianjurkan untuk membaca tips-tips mengenai studi di luar negeri yang terdapat di Internet atau di lembaga-lembaga sekolah di luar negeri seperti di International Development Programme (IDP).  Menurut saya, yang paling penting adalah untuk mengenal dan menguasai Bahasa Inggris. Pengalaman bahasa Inggris di SMP atau SMA saja tidak cukup atau di tempat kursus saja tidak cukup. Saya belajar bahasa Inggris sejak di kelas 4 SD hingga beres kuliah S1 di Universitas negeri, tapi bahasa Inggris saya tetap kurang memadai. Berbahasa Inggris yang baik bukan sekedar bagaimana mengucapkan kata-kata bahasa Inggris yang baik, tapi juga bagaimana mengekspresikan diri kita dengan bahasa Inggris yang kita gunakan. Banyak orang lokal Australia yang kebingungan dengan cara International Student mengekspresikan bahasa Inggrisnya. Hasilnya, kesalahpahaman sering terjadi. Alih-alih ingin memperbanyak teman, yang ada teman-teman menjauhi kita.

Pernah suatu ketika ada mahasiswa yang hendak menyeberang jalan di sebuah Jalan di Civic kota Canberra. Dia menyeberang tanpa mengindahkan rambu-rambu yang ada. Ketika rambu pejalan kaki (pedestrian) masih berwarna merah, orang itu langsung menyeberang tanpa basa-basi. Dari sebelah muncul mobil berkecepatan tinggi yang hampir menabraknya. Meskipun selamat, tingkah laku dia yang melanggar peraturan tidak disukai orang-orang yang berada di belakangnya. Salah satunya ialah polisi yang kemudian mendatangi orang tersebut. Polisi itu marah dan bertanya mengapa ia melakukan pelanggaran itu, karena orang yang melakukan itu orang Asia yang terkenal murah senyum meskipun ia berbuat salah, ia menjawab dengan bahasa Inggris yang tidak jelas sambil tersenyum-senyum. Polisi itu marah karena mengira orang tersebut menertawai dia. Dari pengalaman ini bisa diambil sebuah pelajaran bahwa belajar bahasa Inggris itu membutuhkan juga pembelajaran konteks budaya dan etika dimana bahasa itu digunakan. Budaya dan etika Inggris, Australia dan Amerika sangat jauh berbeda. Maka dari itu, dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang asing yang ada di Indonesia dan berteman baik dengan mereka. Selagi ada, kenapa tidak menggunakan kesempatan itu?  

Belajar di luar negeri seperti di belajar negeri kangguru ini juga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Makanan sehat dan olah raga rutin sangat mempengaruhi stamina kita sehari-hari. Menjaga kesehatan lebih baik daripada pergi ke dokter yang biayanya bisa sangat mahal. Meskipun ada fasilitas gratis untuk pergi ke dokter, tetap saja untuk obat kita membutuhkan uang yang sangat banyak.

Finansial juga sangat berpengaruh dalam melanjutkan studi di luar negeri. Kebanyakan mahasiswa Indonesia di sini mendapatkan beasiswa dari AusAID dan institusi-institusi lain yang menawarkan beasiswa setiap tahunnya. Bagi mereka yang beruntung, beasiswa adalah kesempatan emas yang patut disyukuri; tidak semua orang mendapatkan itu. Saya sebagai contoh, sudah gagal dua kali dalam mengajukan proposal beasiswa ke DIKTI dan AusAID. Yang pertama diklaim bahwa formulir saya “hilang” entah kemana, yang kedua memang saya tidak memenuhi syarat pelamaran beasiswa. Mahasiswa “private” seperti saya dan sebagaian kecil kawan-kawan yang lain, belajar di luar negeri itu sangat berat sekali. Mulai dari setiap bulan harus hidup dengan uang yang terbatas. Biaya akomodasi yang mahal, buku-buku pegangan yang mahal, kebutuhan primer yang mahal. Jika uang pas-pasan, tidak dianjurkan untuk nekad sekolah ke luar negeri. Karena pada akhirnya kenekadan ini akan berbuah stress dan mengganggu proses belajar itu sendiri.

Sebagai orang berpikir dengan bekerja sampingan (part-time job) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini juga tidak mudah. Bekerja membutuhkan komitmen yang lebih kuat untuk mengatur waktu belajar dan mengerjakan tugas. Terlalu banyak bekerja akan mengakibatkan letih secara fisik dan mental, tugas-tugas kampus menjadi taruhan yang mesti dipertanggung jawabkan. Hati-hati dengan nilai jeblok! Biasanya mahasiswa Indonesia di sini memaksimalkan kerja dan menabung uang ketika waktu liburan atau break semester.

Selain masalah finansial, masalah pergaulan sosial juga mesti diperhatikan. Banyak mahasiswa yang belajar di luar negeri hanya fokus pada studi dan pengalaman jalan-jalan dan belanjanya saja. Mereka kadang-kadang lupa betapa pentingnya untuk dapat “bergaul” dengan mereka yang datang dari budaya dan negara yang berbeda. 

Di Australia, terdapat gap yang cukup besar antara International Student yang mayoritas dari Asia dengan mahasiswa Australia atau dengan International Student lain yang datang dari negara yang berbahasa Inggris. Secara kasarnya, terdapat gap antara mahasiwa Asia dan mahasiswa kulit putih. Hal ini diakibatkan oleh ketakutan, keminderan, dan kekhawatiran para mahasiswa itu dalam menggunakan bahasa Inggrisnya dengan baik. Dalam diskusi kelas, tidak sedikit mereka yang secara halus dicemooh oleh sebagian dosen atau kawan mahasiswanya yang jelas-jelas berbahasa Inggris dengan baik (karena mereka native speaker). Gap dalam bahasa dan budaya inilah yang akhirnya masing-masing mahasiswa hanya ingin bergaul dengan sesamanya; komunitas India dengan India, Indonesia dengan Indonesia, “Kulit Putih dengan Kulit Putih”, dan seterusnya. Gap inilah yang mempersulit integrasi sosial di kampus-kampus atau di tempat bekerja di Australia.

Tapi ada juga diantara mereka yang dapat bergaul secara lintas batas karena biasa dibesarkan dengan perbedaan dan sudah mengenal perbedaan ini dengan cukup baik. Pengalaman saya, berpikir positif dalam pergaulan sosial akan membantu untuk mencapai integritas sosial itu. Biar bahasa Inggris kita pas-pasan, orang native yang bahasa Inggris akan senang membantu untuk memperbaiki bahasa Inggis kita jika kita menghendakinya. Jika berteman dengan sangat baik diantara mereka, ada yang sukarela membantu ‘mengedit’ tulisan essai kita. Ada juga diantara mereka yang meminta bayaran. Tergantung dari orangnya.

Yang terakhir, masalah cinta juga berpengaruh ketika kita belajar di luar negeri. Bagi yang single, kesepian di negeri orang terkadang membuat frustasi dan stress sendiri. Kebutuhan untuk mencari teman hidup di negeri orang akan selalu muncul terutama di saat-saat stress belajar dan liburan. Bagi yang sudah punya pacar, mereka selalu merasa khawatir (insecure) dengan keadaan pacarnya yang ditinggal jauh. Hubungan komunikasi satu-satunya yang dapat ditempuh oleh para mahasiswa yang menjalani “distance relationship” adalah melalu telepon, SMS, email, chatting on-line, dan kirim-kirim surat cinta. Banyak tantangan bagi mereka yang menjalani distance relationship ini. Ada yang survive dan bisa terus bertahan hingga mereka bertemu lagi, ada juga yang kandas di tengah jalan diantara dua benua. Masalah ini juga kadang berlaku bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Saya sudah berkeluarga ketika saya berangkat ke Australia di tahun 2007. Tidak dianjurkan untuk berangkat sekolah ke luar negeri sebelum masalah-masalah keluarga diselesaikan dengan baik-baik. Setidaknya ada kejelasan antara komitmen dan tujuan dalam berkeluarga itu sendiri. Antara keinginan untuk terus hidup bersama dan memperbaiki hubungan dengan pasangan mesti dilakukan dengan komitmen yang tinggi. Bagi pasangan yang menikah, komitmen menjaga hubungan lebih tinggi dibandingkan mereka yang masih pacaran tapi jarak jauh.

Awalnya sangat sulit bagiku untuk membawa keluarga ikut ke Australia, berhubung dengan keterbatasan uang yang tidak mencukupi kebutuhan hidup semuanya dan permasalahan domestik yang belum tuntas. Kehadiran isteri dan anak saya ke Australia di akhir tahun 2007 membawa resiko yang sangat besar. Meskipun orangtua mendukung secara finansial dan moral, kesiapan mentalku dan isteriku saat itu masih labil. Konflik domestik pun tidak terhindarkan. Walhasil, di pertengahan bulan Maret 2008, kami mesti pulang kembali ke Indonesia berhubung masalah keluarga semakin besar.

Tapi aku kembali ke Australia untuk menyelesaikan program bridging semester terakhirku. Meskipun senang bisa belajar lagi, tapi tidak mudah untuk berfokus dan berkonsentrasi pada pelajaran yang aku ambil. Stress persoalan keluarga terus menghantui pikiranku. Meskipun demikian, aku tetap berusaha menikmati “indah”nya sisi kehidupan di canberra ini. Musim dingin di kota ini cukup membuat kulit dan tulang tubuh tertusuk dan membeku.

Setiap kali kuberjalan di sekitar kampus dan kota Canberra ini, pepohonan indah, langit biru, dan jalan-jalan yang bersih cukup menghibur hari-hariku. Kawan-kawan yang supportive dan orang-orang yang mencintai di dalam dan di luar negeri ini ikut mewarnai sisa-sisa musim dingin yang sunyi ini. Suka dan duka belajar dinikmati dengan harapan aku dapat kembali lagi di tahun 2009.

Aku memutuskan untuk pulang dulu ke Indonesia dan istirahat selama 6 bulan untuk menyelesaikan persoalan keluarga yang belum terselesaikan. Satu tahun di Canberra, tidak terasa, dari musim dingin ke musim dingin, banyak sekali perubahan dalam hidup ini. Ya, mungkin rasanya seperti naik beberapa level lebih tinggi dari sebelumnya. Bukan merasa “lebih tinggi’ karena belajar di luar negerinya, malinkan karena merasa “lebih tinggi” menyadari kekurangan diri sendiri dan memandang hidup dengan cara yang berbeda pula. Seperti dalam film Canberra Avenue yang disutradai oleh Heri Supriyanto, semua keyakinan dan tradisi mengalami penuh cobaan dan tantangan.

Oleh: hsaefullah | Juni 29, 2008

Winter in Canberra: Study Master IR di ANU

Oleh Hikmawan Saefullah

Sewaktu kecil ayahku (Bapak) selalu bercerita bagaimana musim salju di Australia. Sambil memperlihatkan koleksi fotonya sewaktu ia mengambil program master (population studies), ia menunjukkan bagaimana ibuku yang sedang duduk di atas tanah bersalju terlihat cantik dengan baju musim dinginnnya di foto itu. Kakak-kakakku semua tampak juga di foto dan mereka tampak asyik sedang bermain salju. Aku iri, karena saat itu tahun 1977, aku belum lahir di muka bumi ini.

Aku lahir empat tahun kemudian, di bulan Mei tahun 1981. Umurku sekarang 27 tahun. Bertahun-tahun bayangan foto itu selalu tertanam dalam benak dan pikiranku. Aku lantas bermimpi untuk bisa juga belajar di Australia seperti Bapakku dulu dan bisa menikmati salju itu.

Meskipun tidak sempurna, kini impian itu menjadi kenyataan.  Pada awal tahun 2007 ayahku mengirimku untuk sekolah S2 di Australian National University. Program yang aku ambil adalah program Master of Arts (International Relations). Meskipun tidak setua Universitas Sydney, kampus ANU yang terletak di Ibukota Canberra ini konon sangat bersejarah dalam melahirkan peneliti-peneliti yang profesional dan berpengaruh di dunia.

Tidak mudah untuk sekolah di sini. Bahasa Inggrisku yang sangat terbatas membawaku untuk terlibat dalam program bahasa Inggris 3 bulan di ANU college bersamaan dengan “International Student” lainnya. Setelah itu, tidak semua kandidat master bisa langsung mulai dengan studi masternya. Kebanyakan para dosen dan peneliti akademik diwajibkan  mengikuti ‘bridging programme’ selama 6 – 12 bulan. Program ini semacam matrikulasi dan latihan yang ditujukan untuk persiapan para kandidat sebelum mereka memulai program Masternya.

Sebagaimana kampus hubungan internasional lainnya seperti di University of Wales (aberystwyth) di Inggris, School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London, para mahasiswa pasca sarjana di Departemen Hubungan Internasional di ANU ini berasal dari berbagai negara. Ada yang berasal dari Amerika, Australia, Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapore, Phillipine, Turki, Korea, Mongolia, Inggris, Denmark, Norwegia, Jepang, China, Perancis, Yunani, Italia, dan Jerman.

Karena kondisi keberagaman inilah tradisi berpikir lintas batas dapat dimungkinkan. Pandangan-pandangan konvensional yang tadinya dibawa oleh masing-masing mahasiswa pada akhirnya harus ditantang oleh mahasiswa yang lain.  Professor Christian Reus-Smit dalam ceramahnya di sebuah jamuan makan malam GSIA di Teater Vivaldi berkata: ” Di kampus ini kita tidak membantu para mahasiswa bagaimana caranya menulis ataui mengadakan perjanjian internasional, birokrasi, atau bagaimana mengadakan praktek sebuah diplomasi…kita di sini mengajarkan mahasiswa untuk dapat berpikir “out of the box”…yaitu untuk mampu berpikir dengan kerangka berpikir secara kritis, bebas dan berbeda dari pada biasanya.” Ya, aku memang perhatikan setiap dia di dalam kelas selalu mendorong mahasiswanya untuk berpikir lain daripada apa yang kita baca selama ini.

Aku sempat minder di dalam kelas-kelas yang aku ikuti. Para mahasiswanya kebanyakan merupakan profesional muda yang aktif dan pernah mendapatkan penghargaan dari  masing-masing universitas dan institusi tempat mereka bekerja. Satu hal yang sangat signifikan adalah bagaimana berdiskusi, dan dalam situasi tertentu, berdebat, dalam kerangka etika yang dapat diterima. Tidak seperti kebiasaan orang-orang Indonesia pada umumnya yang sering basa-basi sebelum membahas inti persoalan, kebiasaan orang-orang Australia dan negara Barat lainnya biasanya menghendaki bicara “straight to the point”. People will undermine you when you talk too much but no significant point.

Bukan hanya dalam komunikasi verbal seperti berbicara saja yang dituntut untuk straight to the point. Kebiasaan menulis essai pun diwajibkan untuk ringkas, jelas, dan padat. Semua struktur essai harus didasarkan pada Introduction-Body-Conclusion. Setiap paragraf harus mewakili satu ide utama. Penulis dalam hal ini, mahasiswa, dituntut untuk mampu mengevaluasi teori-teori yang diajukan oleh para sarjana HI terkemuka mulai dari E.H. Carr, Kenneth Waltz, John Mearsheimer, Hedley Bull, Robert Keohane, Robert Cox, sampai dengan konstruktivis Michael Barnett.

Teori-teori HI membangun fondasi berpikir para intelektual dan praktisi hubungan internasional. Asumsi-asumsi mereka mempengaruhi kebijakan politik dalam dan luar negeri negara-negara di dunia. Institusi-instutsi internasional pun tidak lepas dari pengaruh ini. Berangkat dari hal ini, diharapkan semua asumsi tentang dunia yang mereka tawarkan tidak diterima secara mentah-mentah. Evaluasi teori dan asumsi sangat penting untuk bisa diekspresikan secara jelas dalam detail essai yang kita buat.

Secara keseluruhan, tidak mudah belajar di luar negeri itu. Banyak hal yang mempengaruhi kelancaran dalam belajar kita. Mulai dari kesiapan mental, fisik, keuangan, pergaulan sosial, hingga masalah romantika cinta dan keluarga.

 

Oleh: hsaefullah | Desember 1, 2007

Selamat Tinggal, BnG!

Burton and Garran Hall merupakan asrama tempat saya tinggal ketika belajar di semester pertama di kampus the Australian National University di Canberra, Australia. Ayah saya, Bapak, dulu tahun 1977 juga pernah tinggal di asrama ini. Selain memiliki nilai sejarah, asrama yang dihuni sekitar 500-an mahasiswa dari berbagai negara ini, juga mempunyai nilai kenangan tersendiri bagi para penghuninya. Pengalaman yang tidak bisa terlupakan bagi siapapun yang pernah tinggal di dalamnya.

Pertama tinggal di asrama ini, saya merasa sedikit asing dengan kehidupan sekitar. Tidak ada teman yang saya kenal. Semua hubungan sosial bermula dari nol. Semua teman-teman Indonesia kebanyakan tinggal di asrama Toad Hall. Sedangkan di Burton & Garran Hall (disingkat BnG), kebanyakan terdiri dari mahasiswa lokal dan mancanegara lainnya; banyak bule berkulit putih dari Eropa, Australia dan banyak juga mereka yang dari daratan Asia seperti dari Jepang, Cina, Hongkong, dan India. Hanya sedikit teman-teman Indonesia saya yang tinggal di asrama ini.

Saya masih ingat pertama kali bertemu dengan teman Indonesia saya yang sedang mengambil program PhD dalam bidang Fisika, Mas Imam. Beliau sangat baik sekali. Dengan gaya sehari-harinya yang eksentrik, yang sangat menciri-khaskan pengikut NU sejati (bersarung dan berpeci), ia selalu membuat saya terkagum-kagum dengan identitas dan tentunya dengan kebijaksanaan yang dia berikan. Saya masih ingat pertama kali masak di dapur, Mas Imam memberi saya bumbu masakan Indonesia “Bambu” secara cuma-cuma, tapi sayangnya saya belum mahir dalam memasak. Daging yang seharusnya menjadi rendang malah berubah menjadi daging keras setengah matang. Selain mas Imam juga ada Rohit, orang Indonesia keturunan India, yang selalu menjadi kawan merokok saya di depan asrama. Kemudian ada Harsya yang masih belajar di ANU College, Santi, dan Nadiyya. Kehadiran mereka selalu dapat menghilangkan kerinduan saya untuk berbicara dalam berbahasa Indonesia. Konon, hampir sehari-hari di asrama ini saya harus berbicara bahasa Inggris berhubung masyarakat ‘Internasional’ nya yang dominan. Meskipun saya dapat berbicara sedikit dalam bahasa Perancis, Jerman, Jepang dan Arab, Bahasa Inggris tetap menjadi ‘lingua franca’ semua mahasiswa yang ada di asrama. Kelebihan asrama ini adalah meratanya komposisi penghuni yang berbahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka dengan penghuni yang berbahasa non-Inggris. Ini membawa nilai positif bagi hidup saya di BnG; kondisi ini sangat membantu saya dalam berbahasa inggris.

Teman pertama saya di asrama ini adalah Toni dan Reggie dari Singapura. Mereka sangat baik sekali. Dari mereka, saya kenal dengan seorang cewek aussie yang eksentrik, menarik dan sangat bersahabat, Zara namanya. Persahabatan saya dengan Zara membantu improvisasi bahasa inggris saya yang terbatas, baik dalam menulis maupun dalam berbicara dan memahami aneka ragam perbedaan kultur yang ada di sekitar asrama. Selain membantu bahasa inggris, Zara juga memberikan jaringan pertemanan yang lebih luas dengan penghuni BnG yang lain. Saya sangat berterima kasih pada Zara untuk segalanya yang saya dapat dari BnG.

Persahabatan di BnG sangat berkesan bagi saya. Ini pertama kalinya dalam hidup saya memiliki teman yang berasal dari seluruh penjuru dunia; Australia, Amerika, Jepang, Indonesia, Jerman, Denmark, Perancis, Hong Kong, Cina, Mongolia, Mesir, Azerbaijan, Kazakhstan, Rusia, Latvia, Italia, India, dan Spanyol. This is awesome!!! Dalam lingkungan seperti inilah saya betul-betul menemukan keasyikan tersendiri dalam berhubungan sosial. Saya menemukan berbagai kesamaan dan perbedaan dari mereka. Membangun  solidaritas tanpa memandang warna kulit dan asal negara. Saya juga menemukan bahwa esensi diri kita sebagai manusia yang ingin bersahabat pada prinsipnya sama, terlepas dari perbedaan nilai, budaya, agama, dan penampilan fisik yang kita semua miliki.

Selain itu, satu hal yang saya ingat kuat adalah desain dapur BnG yang sangat brilian. Meskipun menampilkan warna-warna yang norak, dapur BnG telah didesain sedemikian rupa sehingga para penghuni dapat bersosialisasi dengan sangat terbuka. Pertama, dapur diorganisasikan dalam blok-blok tanpa sekat. Dari bentuk meja kompor yang berbentuk oval, kompor memasak terdapat di setiap sisi meja dan mengeliling sehingga ketika penghuni memasak, mereka tetap mampu untuk dapat saling  berinteraksi satu sama lain; apakah itu sekedar chatting, diskusi, atau bahkan bercanda. Kedua, meja makan juga berbentuk oval, memudahkan para penghuni untuk makan tanpa menutup keterbukaan untuk saling mengenal, baik dengan kawan lama maupun kawan baru. Ketiga, gubahan ruang dapur yang sangat besar dan langit-langitnya yang tinggi. Tidak ada sekat antara blok dapur satu dengan blok dapur yang lainnya. Awal perkenalan sebagai teman seringkali terjadi di dapur BnG ini. Potluck Dinner yang sering diadakan teman-teman  di sini juga memperkaya menu makan malam dan ikatan sosial para penghuninya.

Kesulitan bagi mereka yang hidup di BnG adalah mereka yang tidak mampu hidup bersosialisasi dengan yang lain. Isolasi diri akan membawa diri si penghuni menjadi terisolasi bahkan teralienasi. Mereka yang mampu bertahan di BnG adalah mereka yang selalu terbuka dan selalu ingin berkenalan dengan orang-orang yang datang dari latar belakang yang berbeda. Biasanya stereotip selalu menjadi hambatan dalam berhubungan sosial, tidak jarang masalah juga sering muncul dari hal-hal sepele seperti ini tidak pernah menyapa atau senyum. Kuncinya sederhana; sapalah, senyum dan berkenalan.

Kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing di hari Kamis malam. Klub andalan mereka adalah “ICBM” yang terletak di tengah Civic kota Canberra. Jika pergi ke tempat itu, maka pengunjungnya rata-rata penghuni BnG. Sebagian hanya bertahan hingga pukul 1 malam, karena harus belajar untuk kelas pagi esok harinya. Sebagian lagi bisa menghabiskan sisa waktunya hingga pukul 5 pagi hari karena bagi mereka tidak ada kelas lagi di akhir minggunya. ICBM mengingatkan saya pada Angus, Alice, Nora dan Cat, kawan selantai di asrama, yang selalu mengajak saya pergi clubbing bersama mereka. Sayangnya, hampir tidak ada teman-teman Indonesia saya yang pergi clubbing itu.

Bagi sebagian penghuni BnG, bukan saja belajar yang menjadi fokus mereka sehari-hari, tapi juga romance. Sudah tidak terhitung banyaknya pasangan yang jatuh cinta dan patah hati di sana. Pelajaran yang saya dapat dari teman-teman di sana ialah jika ingin menjalin hubungan romance dalam lingkungan yang multikultural seperti BnG, ‘kesadaran multikultural’ merupakan syarat wajib dalam membina hubungan. Ini bukan main-main. Banyak pasangan interrasial yang putus gara-gara tidak memahami kebiasaan dan keinginan pasangannya, jangankan pasangan interrasial, pasangan yang berasal dari ras yang sama pun tetap mengalami patah hati yang lumayan pada akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya. Makanya, tidak aneh jika diantara mereka hanya pacaran dengan pasangan yang datang dari latar belakang ras, bahasa dan agama yang sama; untuk menghindari resiko patah hati (Hehehe…). Tidak jarang juga pasangan interrasial yang menjalankan hubungannya secara langgeng. Kumaha jelema na lah…

Sebelum saya meninggalkan BnG karena semester kedua telah habis, saya memberikan sumbang asih medali dan piala meja tenis untuk BnG. Medali ini saya raih dari hasil  pertandingan melawan Fenner Hall, Burgman College, dan Ursula Hall. Prestasi ini merupakan sebuah kebanggaan dan kesenangan tersendiri bagi saya. Setidaknya seperti mengukir sejarah kecil dari orang kecil seperti saya. Dari aktivitas dan komunitas olah raga yang ada di BnG, saya juga bisa memperluas jaringan pertemanan. Sebagaimana dalam bidang akademik, di bidang olah raga, biasanya para penghuni lebih dihargai karena kelebihan yang mereka miliki dan berguna bagi komunitas BnG secara umum.

Ayah saya datang menjemput saya tiga hari terakhir saya tinggal di BnG. Saya ajak Bapak keliling kampus ANU dan asrama BnG. Dari tatapan matanya, kulihat ia mengenang masa lalunya ketika ia tinggal di asrama ini. Kulihat dia tersenyum beberapa saat ketika melihat bangunan dan tempat-tempat tertentu, dan terkadang dia malah terdiam dan termenung. Aku kira, saat itu ia sedang mengingat masa-masa lalunya yang menyenangkan di BnG sebagaimana yang baru saja saya alami. Di hari terakhir, kupeluk dan kusalami teman-teman yang masih tersisa di BnG sebagai tanda perpisahan. Berat kaki ini untuk melangkah pergi, tapi bagaimanapun juga, saya tetap harus pergi. Koper dan ransel sudah siap diangkat, saya dan Bapak sudah menunggu taksi di depan asrama, begitu Taksi datang menjemput, kutatap tajam-tajam asrama itu hingga hilang dalam pandanganku. Saat itu juga kuucapkan…Selamat Tinggal BnG!

Oleh: hsaefullah | Desember 1, 2007

Mempertanyakan Peran Agama dalam Hubungan Internasional

Kampus tertua di Melbourne itu terlihat sepi. Sebagian besar mahasiswanya sudah pergi berlibur, sebagian kecil masih sibuk dengan tugas-tugas penelitiannya. Indri, teman lamaku dari fisip unpad tiba-tiba menelponku menanyakan posisiku dimana berhubung seminar akan segera dimulai. Saat itu aku masih juga tersesat tak jelas di tengah komplek kampus Melbourne University. Akhirnya aku bertemu Indri di depan gerbang Graduate Centre yang terletak di Grattan Street. Akupun menyapanya, namun tak begitu lama kita berbicara, karena Paul Morris, salah seorang Professor hubungan internasional dari Victoria University of Wellington sudah membuka ceramahnya tentang tantangan peran agama-agama dalam hubungan internasional di abad kedua puluh satu.

Pertanyaan dasar dalam seminar ini adalah “apakah agama-agama dunia seperti Islam, Protestan, Katolik, Sikh, Hindu, Buddha, Baha’i, dan lain sebagainya memiliki peran penting dalam hubungan internasional saat ini? apakah eksistensi mereka memberikan kontribusi positif dalam perdamaian dunia ataukah sebaliknya?”

Kaum rasionalis kebanyakan menolak asumsi bahwa agama-agama berperan penting dalam membentuk struktur hubungan internasional saat ini. Sebaliknya, agama justru menyebabkan lahirnya konflik dan peperangan. Mereka beranggapan bahwa agama telah terbukti selalu memberikan catatan buruk dalam sejarah hubungan antar umat manusia. Lihat saja sejarah lahirnya nation-state dari peristiwa berdarah perang tiga puluh tahun antara bangsa-bangsa Eropa 1618-1648 (The Thirty Years War) atau Perang Salib antara bangsa Muslim dan Kristen Eropa.

Meskipun sudah banyak berbagai tulisan mencantumkan signifikansi agama-agama sebagai aktor penting dalam hubungan internasional, mazhab arus utama tetap menganggapnya sebagai masalah yang pherical sampai tragedi 11 September di New York pada tahun 2001 terjadi. Peristiwa ini melahirkan bukan saja menggagaskan penting nya aktor non-state; kelompok teroris, dalam hubungan internasional, lebih luasnya lagi, yaitu mempertanyakan kembali peran agama, khususnya, Islam dalam hubungan internasional.

Selain dihadiri oleh para akademisi hubungan internasional, kaum agamawan juga hadir dalam seminar yang diprakarsai oleh Ralph Pettman, penulis buku Reason, Culture, Religion; The Metaphysics of World Politics. Pettman merupakan figur yang sangat menarik bagi saya. Dia seorang profesor dan ahli dalam hubungan internasional, tapi dia juga merupakan seorang Sufi. Gagasannya bahwa politik dunia memiliki aspek metafisik memberikan ruang bagi studi hubungan internasional untuk mengakui agama-agama dunia sebagai fokus analisis.

Kaum rasionalis yang pesimistik memang menganggap bahwa agama merupakan biang keladinya kasus terorisme di berbagai penjuru dunia. Katakanlah kelompok-kelompok seperti IRA (Inggris), al-Qaeda (Sekitar dunia lah katanya), Irgun (Israel), Neo-Nazi (Eropa, Amerika dan Australia) merupakan bukti bagaimana ajaran agama dapat mendorong pengikutnya yang ‘fanatik’ dan ‘ekstrim’ untuk mensyahkan pertumpahan darah atas nama ‘titah sakral Ilahi’nya mereka masing-masing. Tapi mereka lupa, bahwa liberal-kapitalisme sebenarnya juga merupakan sebuah ‘ajaran agama’ yang mensyahkan pertumpahan darah dan kemiskinan atas nama demokrasi dan kesejahteraan umat manusia. Profesor Paul Morris menyebut ‘titah Ilahi’ kaum kapitalis dengan “The Global Messianic Capitalism” yang tentunya Amerika Serikat sebagai ‘Perahu Nuh’nya.

Bagaimanapun juga, sebagaimana prinsip dasar hukum alam yang mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki dua sisi. Ajaran agama memiliki dua sisi, baik dan buruk. Baiknya prinsip dasar ajaran agama adalah ditujukan demi kebaikan, keadilan dan kesejahteraan umat manusia. Dalam prakteknya, agama membutuhkan guru-guru spiritual yang memberi arah dalam membentuk struktur sosial yang damai dalam konteks yang luas. Guru-guru spiritual ini bukan saja mereka yang dianggap Kyai, Pendeta, Biksu atau Syekh, tapi juga mereka manusia-manusia biasa yang memiliki derajat dan keinginan yang sama satu dengan yang lain. Sedangkan buruknya, ialah ketika ajaran agama itu bersifat multitafsir; orang yang berpandangan sempit menafsirkan bahwa hanya kelompok agama dirinya lah yang paling benar dan kelompok agama lain salah. Logika sempit dalam beragama inilah yang diaku-akui oleh kaum sakralis sehingga menganggap rendah (undermining) kelompok agama lain. Dengan menganggap rendah, tidak jarang mereka mensyahkan penghancuran kelompok agama atau budaya lain yang dianggap sesat atau salah.

Perdamaian, harmonitas dan kesejahteraan umat manusia bukanlah konsep-konsep yang dibentuk begitu saja oleh hukum yang dibuat berdasarkan perjanjian aktor hubungan internasional. Masing-masing merupakan konsep yang merupakan impian dan tujuan dari international society yang memiliki dimensi metafisik yang tidak bisa diabaikan. Sebagai contoh, untuk hidup secara harmonis dengan tetangga rumah kita, tidak cukup hanya dengan membuat perjanjian yang baku dan harus ditaati oleh masyarakat RT dan RW setempat. Setiap orang dalam masyarakat tersebut mesti setidaknya mengerti nilai penting dari sebuah harmonitas; penghargaan hak-hak orang lain sebagaimana menghargai hak dirinya sendiri, saling menolong dan berbagi, dan saling memahami perbedaan karakter pribadi yang sudah dimiliki dari sejak lahir.

Nilai-nilai etika semacam ini sudah jarang dapat ditemui di era materialistik yang sedang kita hidupi sekarang ini. Prinsip “sabot-menyabot” (seperti yang sedang dikhawatirkan oleh dosen saya kang Ono; baca deh blognya, menarik untuk direnungkan! :) ) sudah membudaya di berbagai lapisan sosial masyarakat dalam tingkatan yang sangat mengkhawatirkan terlepas itu dilihat latar belakang etnik, bangsa atau negaranya. Bagaimanapun juga, nilai etika dari agama-agama masih sangat dibutuhkan dalam membentuk struktur politik dunia yang damai. Absen dalam memberikan kontribusi di dalam prakteknya hanya akan menghasilkan dunia yang semakin gak karuan.

===============================================================

Di akhir seminar, saya minum-minum dan mengobrol dengan beberapa pembicara dan peserta seminar. Di sana, saya bertemu dengan istri seorang musisi terkenal Dya Singh, Jessie Singh, yang mengajak saya untuk bergabung dalam komunitas Interfaith dialogue yang sudah mereka bentuk. Ini pengalaman yang lumayan menarik bagi saya, tak ada salahnya jika saya sekali-kali mengambil perspektif spiritual dalam praktek hubungan internasional hehehe… I think Jessie was right, If we want one peace, we have to know each other…

jika ingin bergabung dengan komunitas ini, come and visit this website: http://www.commonmelbourne.com

Kategori